Oleh TPP Kecamatan Bae
KUDUS.JamuDesa.com (7/11/2025). Masalah sampah seringkali menjadi masalah pelik, namun di Desa Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, limbah rumah tangga justru menjadi katalisator bagi kemandirian ekonomi desa. Berawal dari gerakan kecil Karang Taruna, kini Desa Bae memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) bernama Tunjung Seto yang sukses mengelola sampah menjadi sumber pendapatan dan lapangan kerja.
Dari Bank Sampah Menjadi BUM Desa Mandiri
Lahirnya BUM Desa Tunjung Seto berawal dari kegiatan Bank Sampah yang digagas oleh pemuda Karang Taruna Desa Bae. Melihat potensi tersebut, Tim Pendamping Profesional (TPP) hadir mengawal proses pendirian dan pengembangan BUM Desa. Melalui pelatihan tata kelola dan minat potensi desa, BUM Desa Tunjung Seto Bae resmi didirikan pada 17 Januari 2022.
Peran TPP tidak berhenti pada pendiriannya. Bersama pengurus BUM Desa, mereka terus berinovasi, mengembangkan usaha yang terintegrasi, termasuk melalui program ketahanan pangan.

Sirkulasi Ekonomi Hijau: Lele, Pepaya, dan Maggot
Awalnya, kegiatan pengelolaan sampah pada tahun 2022 dilakukan seadanya di rumah Direktur BUM Desa. Namun seiring berjalannya waktu dan dukungan Dana Desa, BUM Desa Tunjung Seto berkembang pesat. Dana Desa termasuk secara bertahap, antara lain sebesar Rp 98.744.000,00 pada tahun 2022, dan akan dilanjutkan pada tahun 2025 (Rp 73.932.000,00 dan Rp 300.000.000,00 dalam perubahan anggaran) untuk pembangunan dan pengelolaan BUM Desa.
Puncak perkembangannya terlihat pada tahun 2024 dengan dibangunnya gudang pemilah sampah dan kantor sekretariat sendiri.
Kini, BUM Desa Tunjung Seto menerapkan konsep sirkulasi ekonomi yang cerdas:
- Pengelolaan Sampah: BUM Desa menjadi pusat Bank Sampah, menerima setoran tidak hanya dari Karang Taruna, tetapi juga dari pengepul luar Desa Bae. Warga desa pun termotivasi untuk memilah sampah rumah tangga mereka karena memiliki nilai ekonomi.
- Budidaya Maggot : Mereka membudidayakan maggot (larva Lalat BSF) yang berfungsi sebagai pengurai sampah organik.
- Pakan Ternak: Maggot ini kemudian digunakan sebagai pakan untuk usaha peternakan lele dan ayam, sekaligus mengurangi sampah organik di lingkungan.
- Ketahanan Pangan: Selain lele, BUM Desa juga mengelola perkebunan pepaya.
- Pelatihan UMKM: BUM Desa juga aktif memberikan pelatihan daur ulang sampah menjadi produk bernilai jual seperti tas dan suvenir, serta pelatihan pembuatan pupuk organik, eco-enzym , dan pestisida.

Dampak Nyata bagi Masyarakat
Hasilnya sungguh terasa. Masyarakat Desa Bae kini lebih aktif memilah sampah, yang tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi bagi nasabah bank sampah, tetapi juga secara signifikan mengurangi jumlah sampah di lingkungan sekitar. Pengelolaan sampah yang baik ini juga mengatasi masalah lingkungan seperti polusi.
Secara ekonomi, usaha ini berhasil menyumbangkan kontribusi pada Pendapatan Asli Desa (PADesa) sebesar Rp 2.119.500 (2023) dan Rp 1.410.725,00 (2024). Dampak sosialnya juga positif, terutama bagi para pemuda yang kini memiliki kegiatan produktif dan bernilai ekonomi.
BUM Desa yang digawangi direktur Anshori, Sekretaris Mahfuad, Bendahara Ahmad Miftahur Rozi, dengan Penasehat dijabat secara rangkap Kepala Desa Agung Budianto, dan Pengawas Toto Sukarno ini telah memiliki pegawai 3 orang, dua diantaranya adalah ibu-ibu.
Keberhasilan ini bahkan menarik perhatian internasional. Pada tanggal 4 September 2025, BUM Desa Tunjung Seto mendapat kunjungan dari Tim Swedfund dari Swedia. Dengan inovasi ini, BUM Desa Tunjung Seto tidak hanya mewujudkan kemandirian ekonomi desa, tetapi juga memberikan teladan nyata bagaimana sampah bisa diubah menjadi harapan.
Dalam pengembangan BUM Desa Tunjung Seto Bae juga tidak lepas dari pendampingan PT Djarum dan Lokadata.id bersama dengan Perkumpulan Desa Lestari.
Editor: Moh Ali Khomsin (TAPM Kabupaten Kudus)







