Oleh PD Rohmad Soleh, PD Sony Priswanto, PD Moh Saifuddin Nawawi
KUDUS.JamuDesa (18/11/2025). Siapa bilang desa itu tempat yang stuck dan boring? Coba deh lirik Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Mereka ini buktinya kalau anak Desa itu smarter dari yang kita kira! Desa ini berhasil switch up kondisi mereka dari yang awalnya pernah jadi desa locus stunting alias punya masalah gizi, sekarang malah jadi pusat inovasi yang keren banget, terutama soal air bersih dan ketahanan pangan.
Kepo kan, gimana ceritanya? Simak vibes keren Jepangpakis!
Air Bersih, Anti Ribet & Anti Stunting
Tantangan utama yang dihadapi Jepangpakis di tahun 2021 adalah masih banyak warganya yang belum punya akses air minum dan sanitasi yang layak. Ini bahaya banget, karena bisa berdampak negatif ke kesehatan dan ekonomi, apalagi buat pencegahan stunting.
Gak pakai lama, Pemdes (Pemerintah Desa) langsung gercep memanfaatkan Dana Desa tahun 2021 untuk program Desa Layak Air Bersih dan Sanitasi. Nama kegiatannya, Pembangunan/Rehabilitasi/Peningkatan Sambungan Air Bersih ke Rumah Tangga. Dana Desa Dicurahkannya: Rp 50.050.000,-. Hasil real, sebanyak 177 SR (Sambungan Rumah) air bersih kini sudah dinikmati warga miskin rentan.
Yang paling keren, program ini gak berhenti di situ. Air bersih ini kemudian dihibahkan ke Kelompok Masyarakat (KP SPAM), dan dikelola. Dari pengelolaan ini, lahirlah ‘unit’ usaha BUM Desa Pakis Jaya Jepang Pakis. Gokil! Dari air bersih, mereka sukses mendulang PADesa (Pendapatan Asli Desa) sebesar Rp 18.000.000,- /tahun. Modal kecil, hasil maksimal!

Pisang for Life & Pasar Sat-Set
Setelah sukses urusan air, Jepangpakis gaspol di sektor ketahanan pangan. Mereka sadar, punya lahan strategis tapi gak dimanfaatkan itu rugi bandar.
1. Tempat Pemasaran Produk Pangan: Pusat Vibes Baru
Antara tahun 2021 hingga 2024, Pemdes Jepangpakis total menggelontorkan Rp 1.873.548.936,- dari Dana Desa untuk Pembangunan Tempat Pemasaran Produk Pangan Desa. Output-nya, total 96 gerai tempat pemasaran produk pangan sukses terbangun. Dampaknya gak main-main, angka pengangguran menurun, pendapatan masyarakat yang terlibat meningkat. Kontribusi PADesa, Rp 131.800.000,- /tahun.
Tempat ini sekarang jadi hangout spot dan pusat wirausaha desa. Mereka bahkan rutin bikin event-event bazar dengan menggandeng Kelompok Tani, Kelompok Wirausaha, dan anak-anak muda desa.
2. Kebun Pisang KWT: Inovasi Anti Stunting
Jepangpakis pernah jadi desa locus stunting. Untuk mengatasinya, mereka meluncurkan program Kebun Pisang Desa di tahun 2023 dengan Dana Desa sebesar Rp 129.832.540,-. Pelaksananya keren, karena program ini dipegang oleh KWT (Kelompok Wanita Tani) Pakis Lestari. Mereka dipilih karena sudah aktif di kegiatan Posyandu.
Hasilnya Amazing: Hasil panennya disepakati 30% disalurkan ke 8 Pos sebagai PMT (Pemberian Makanan Tambahan) untuk balita, dan 70% untuk operasional. Sampai saat ini, 488 tandan pisang sudah dibagikan ke warga lewat Posyandu. Program ini telah berdampak positif membantu menurunkan angka stunting di desa dengan pemenuhan protein nabati.
Gak cuma dibagikan, kebun pisang ini juga berkembang jadi unit usaha BUM Desa. Mereka kolaborasi dengan Akademisi UMK, dan sekarang sudah ada produk olahan kayak bolu pisang, snack pisang, sampai kerajinan dari pelepah yang dijual online di Shopee.
3. BUM Desa Level Up di Tahun 2025
Melihat kesuksesan sebelumnya, di tahun 2025 BUM Desa Pakis Jaya Jepang Pakis naik kelas dengan mengelola dua unit usaha ketahanan pangan dengan penyertaan modal dari Dana Desa sebesar Rp 316.852.200,- Budidaya Pisang, menghasilkan 600 pohon pisang dengan taksiran nilai jual Rp 30.000.000,- setahun (belum termasuk produk olahan). Dagang Sembako, ditaksir punya omset Rp 160.000.000,-setahun. Total Kontribusi PADesa (Pendapatan Asli Desa) dari 2 unit usaha ini, Rp 68.000.000,- se tahun.
Desa Jepangpakis membuktikan, dengan Dana Desa dan semangat kolaborasi (Pemdes, TPK, KPSPAM, KWT, Akademisi), masalah besar kayak stunting bisa diubah jadi peluang usaha yang cuan dan bikin desa jadi mandiri, sehat, dan keren!
Editor TAPM Moh Ali Khomsin























