
KUDUS.JamuDesa. Suasana Sekretariat Tenaga Ahli P3MD Kabupaten Kudus Jl Peganjaran-Sukun, tak seperti biasanya penuh kebahagiaan. Lantaran kedatangan sahabat Tenaga Ahli dari Kabupaten Pati, Jum’at (31/3/2017).
Koordinator TA P3MD Kabupaten Pati Zaenal Muttaqin ( TA-PP), didampingi Prasetyo Krisdianto (TA PMD), Abd Muhid (TA-PED), Ade Siti Juariyah (TA-PSD) dan Agung Kristianto (TA-TTG), tiba di sekretarit pukul 09.30, sebelumnya singgah dahulu di Bumdes Desa Smart, Peganjaran.
Koordinator P3MD Kudus Mc Afif Soleh (TA-PED), didampingi Dwi Luhur Muhammad (TA-ID), M Ali Khomsin (TA-PSD), Muh. Muntaha (TA-PMD) dan Haerul Saleh (TA-PP), menyambut kehadiran sahabat TA Pati dengan suka cita.
Tak pelak, sheering tentang Badan Usaha Milik Desa (Bumdesa), Advokasi Regulasi dan Pendamping Desa (PD) serta soal Pendamping Lokal Desa (PLD) mengalir, terkadang diselipi guyonan berbagi pengalaman pendampingan.
Sekitar satu jam, kemudian rombongan meluncur ke Balai Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog. Sekretaris Desa setempat Sukono memperkenalkan secara singkat kondisi Desa Rahtawu sebagai salah satu destinasi wisata Kota Kretek.
Lokasi sekitar 18 kilometer dari pusat kota, Rahtawu miliki air terjun Kalibanteng dengan jalur yang bertingkat atau berundak. Tepatnya ada tiga tingkatan air terjun yang menjadi favorit wisatawan adalah air terjun tingkat pertama karena memiliki kubangan yang cukup lebar sehingga sering digunakan untuk mandi dan bermain air.
Rahtawu juga memiliki pemandangan yang indah karena letaknya yang dikelilingi deretan pegunungan dan sungai-sungai yang masih jernih. Rahtawu yang berhawa dingin dan jauh dari keramaian merupakan daya tarik bagi yang suka laku prihatin. Kata orang desa Rahtawu, konon nama Rahtawu mempunyai arti getih yang bercecer (bahasa jawa) kalau indonesianya (darah yang bercecer).
Sebelum memasuki Desa Rahtawu, pengunjung akan disuguhi jalan berkelok-kelok dengan sisi jurang, sehingga harus ekstra hati-hati. Sebelum memasuki pusat Desa sampai ke jalan aspal terakhir di Dukuh Semliro, pengunjung sebaiknya berhenti sejenak, bisa di punden-punden yang bertebaran untuk mencecap aroma “pertautan akulturasi Hindu, Jawa dan Islam”, atau menikmati masakan entog (jawa) goreng atau ditongseng yang terdapat disepanjang jalan menuju Dukuh Semliro.
Kalaupun belum puas bisa mencoba turun ke sungai utama di Rahtawu yang bernama Kaligelis. Dinginnya air akan membuat segar. Atau, lebih terasa lagi dengan berkunjung ke air terjun Petung dan merasakan mata air Bunton, sumber air yang alirannya menjadi satu dan lebih dikenal dengan nama Kaligelis. Muaranya sampai membelah Kota Kudus dan dapat dilihat pada saat memasuki Kudus dari Demak atau Semarang atau saat keluar Kudus melewati Jembatan Tanggulangin.
Rahtawu terdapat banyak “petilasan pertapaan” yang diyakini dahulu kala memang benar-benar merupakan tempat bertapanya “para suci” yang oleh penduduk setempat disebut “Eyang”.
Diantaranya : Eyang Sakri (Bathara Sakri), di Desa Rahtawu. Eyang Pikulun Narada dan Bathara Guru, di Joggring Saloka, dukuh Semliro, desa Rahtawu. Eyang Abiyasa dan Eyang Palasara, di puncak gunung “Abiyasa”, ada yang menyebut “Sapta Arga”. Eyang Manik Manumayasa, Eyang Puntadewa, Eyang Nakula Sadewa di lereng gunung “Sangalikur”, di puncaknya tempat pertapaan Eyang Sang Hyang Wenang (Wening) dan sedikit ke bawah pertapaan Eyang Ismaya.
Eyang Sakutrem (Satrukem) di sendang di kaki gunung “Sangalikur” sebelah timur. Eyang Lokajaya (Guru Spirituil Kejawen Sunan Kalijaga, menurut dongeng Lokajaya nama samaran Sunan Kalijaga sebelum bertaubat), di Rahtawu. Eyang Mada (Gajah Mada) dan Eyang (Romo) Suprapto, berupa makam di dusun Semliro.

Semua “petilasan” (kecuali makam Eyang Mada) merupakan “batu datar” yang diperkirakan sebagai tempat duduk ketika bertapa (meditasi, semadi). Sayangnya, semua petilasan tersebut telah dibuatkan bangunan dan dibuat sedemikian rupa “sakral” dengan diberi bilik yang tertutup dan dikunci.
Pembukaan tutup dilakukan setiap bulan Suro (Muharam) tanggal 1 s/d 10.
Setiap petilasan dibuatkan suatu bilik khusus untuk melakukan “ritual sesaji” dengan bunga dan pembakaran dupa. Juga disediakan suatu ruangan cukup luas untuk para pengunjung beristirahat dan menunggu giliran untuk melakukan “ritual sesaji” maupun “ngalap berkah.”

Rombongan Tenaga Ahli meninjau lokasi tanah lapang luas sekitar 5000 m2, milik Desa hibah ke Bumdes, yang direncanakan untuk pembangunan perparkiran, gardu pandang, kuliner dan pentas budaya.
Menu rica-rica, entog goreng dan kopi hitam serta teh panas, akhiri diskusi pendampingan desa di gubug Rahtawu. Sambal korek nan pedas menambah selera makan siang itu. Terima kasih sahabat Pati. **** salam damai- kang saleh ta kudus.
