
KUDUS.JamuDesa.Com. Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Buana Raya Desa Wates dan Bumdes Wijoyo Raharjo Desa Sambung Kecamatan Undaan. Bumdes Makmur Mandiri Desa Garung Lor Kecamatan Kaliwungu. Bumdes Lestari Desa Kuwukan dan Bumdes Maju Jaya Desa Glagah Kulon Kecamatan Dawe.
Serta Embrio Bumdes Desa Colo dan Desa Ternadi Kecamatan Dawe, turut meriahkan hari penutupan pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-98 di Lapangan Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus, Kamis (4/5/2017).

Bumdes Buana Raya, memilki unit usaha pengelolaan sampah, yang kini tengah proses unit Kantor Pos dan Post Pay (Pembayaran Online ), Unit Wisata Agropolitan ( Petik buah ), Unit perdagangan (Toko di Pasar Wates), Unit Kuliner ( Coffe shop & Traditional food ) dan Wisata Arsip Desa.

Bumdes Makmur Mandiri bergerak di unit usaha Parkir ( PR. Djarum dan Rumah Sakit Yakis ). Unit Pertokoan ( 5 Kios ). Unit persewaan Giya Praja, dan Unit Air Bersih ( Pamsimas ).
Bumdes Lestari Unit yang akan dikembangkjan Pariwisata / Air Terjun, Unit Koperasi dan Simpan Pinjam.
Bumdes Maju Jaya, Unit yang akan dikembangkan Pendirian Kantor Pos, Unit Produksi Madu dan Unit Perdagangan.

Sedangkan embrio Bumdes Desa Colo dan Ternadi, menampilkan unit usaha Kopi, Kerajinan Batik, dan Wisata Air Terjun.
Partisipasi Bumdes dalam acara penutupan TMMD tersebut mendapat perhatian dari Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaen Kudus H Noor Yasin, Komandan Korem (Danrem) 073/Makutarama Kolonel Inf Joseph Robert Giri, Dandim 0722/Kudus sekaligus menjabat Dan Satgas TMMD Reguler ke-98, Letkol Czi Gunawan Yudha Kusuma, Ibu-Ibu Bayangkara, Ormas FKPPI dan Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Dawe.

Hikmawati Inaya, pemilik Kopi Muria Wilhelmina, yang berpartisipasi dalam Bumdes, merasa senang terlibat dalam pameran penutupan TMMD, sebagai ajang promosi kopi Kudus.
Menurutnya, Kopi Muria ditanam di gunung Muria pada abad ke 19 merupakan kopi terbaik saat itu dan khusus di konsumsi oleh keluarga kerajaan Belanda. Hingga saat ini kopi peninggalan Belanda yang berada di pegunungan Muria tetap di kembangkan dan di lestarikan baik produk maupun historynya. Petik merah,sortir ketat pengolahan yang pas,kopi murni tanpa bahan kimia dan campuran apapun membuat Kopi Muria Wilhelmina mempunyai cita rasa yang khas dan unik.
Kopi Muria adalah jenis robusta, sudah secara temurun ditanam pada zaman penjajahan Belanda. Lahan perkebunan kopi dikelola oleh petani setempat. Bahkan, ketika zaman penjajahan Belanda, para bangsawan Belanda menjadikan sebagai salah satu minuman andalannya. Cerita dari mulut ke mulut yang dituturkan Hikmawati asal Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, setiap panen bangsawan Belanda selalu meminta jatah untuk dikirim ke Holand. Sejak itu, Muria Caffe, sebutan kopi asal Colo, menjadi sajian wajib nenek moyang Bangsawan Belanda. “Setahu saya, sejak pemerintahan Ratu Wilhelmina dan Ratu Yuliana, Muria Caffe menjadi minuman pilihan kalangan bangsawan Belanda,” kata Hikmawati Inaya kepada JamuDesa.Com.
Sementara itu Mc Afif Soleh, TA PED Kab. Kudus menjelaskan, BUM Desa adalah salah satu instrumen yang mencoba untuk mengatasi permasalahan ekonomi pada masyarakat desa. BUM Desa sifatnya bukan eksklusif semua masyarakat desa bisa mengakses semua kegiatan yang ada didalamnya. Juga tidak membedakan golongan ekonomi. Baik yang kaya mapun yang miskin bisa berpartisipasi dalam kegiatan BUM Desa. Bagi yang kaya kemungkinan bisa diajak bermitra dengan jalan menanamkan investasi dalam BUM Desa tersebut.
Setiap desa pada dasarnya mempunyai potensi ekonomi yang dapat dikembangkan. Hanya saja dari pihak desa belum fokus untuk menemukenali potensi apa saja yang ada di desa tersebut. Tetapi ada juga desa yang sudah mengenali potensi ekonominya dan mempunyai kegiatan tetapi belum dikelola secara profesional. Termasuk mengelola aset desa yang dapat digerakkan selain untuk menambah PAD juga bermanfaat bagi masyarakatnya. Maka BUM Desa sangat baik apabila di bentuk untuk mengelola kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang peningkatan ekonomi warga masyarakat desa.
Masyarakat desa mempunyai usaha yang bersifat mikro dengan adanya BUM Desa dapat dihimpun secara kolektif agar produksi mereka dapat dicarikan koneksi dalam pemasarannya. Contoh: Petani yang mempunyai lahan kurang dari 1 ha maka dapat dikonsolidasi melalui BUM Desa kemudian BUM Desa dapat bekerjasama dengan BULOG. Maka dengan cara ini selain dapat membatu petani dalam menstabilkan harga juga dapat memotong mata rantai permainan para tengkulak.

TMMD
Pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke- 98 yang digelar di seluruh wilayah Kodam se- Indonesia. TMMD digelar selain mempercepat pemerataan pembangunan di daerah, juga untuk memperkuat kesatuan bangsa.
Demikian amanat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Mulyono yang disampaikan Komandan Korem (Danrem) 073/Makutarama Kolonel Inf Joseph Robert Giri, saat penutupan TMMD Reguler ke-98 Kodim 0722/ Kudus di lapangan Desa Kandangmas Kecamatan Dawe, Kamis (4/5). TMMD telah dilaksanakan sebulan penuh sejak 5 April lalu.
“Kegiatan TMMD secara tidak langsung merupakan implementasi salah satu sila pancasila, yakni melakukan gotong royong. Dengan gotong royong dapat memperkuat kesatuan bangsa,” tegasnya.
Dalam upacara penutupan, secara simbolis Danrem menerima kembali peralatan kerja, dari personel yang mengikuti kegiatan TMMD. Ini menandakan, bahwa seluruh kegiatan telah dapat terlaksana secara baik.
Komandan Kodim 0722/Kudus yang juga Dan Satgas TMMD, Letkol Czi Gunawan Yudha Kusuma menambahkan, kegiatan fisik yang dilaksanakan dalam kegiatan TMMD di Kudus kali ini yaitu melakukan pembangunan jalan dan jembatan penghubung dua dukuh, Masin dan Sudo, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe.

Tampak hadir dalam acara penutupan TMMD diantaranya Plt Kepala Dinas PMD Kab. Kudus, Drs. Agus Budi Satriyo, MH. Sekretaris Dinas PMD Kab. Kudus, Arif Budi Siswanto, ST. Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat DPMD Ibu Saparni, SH MM, Kepala OPD Kabupaten Kudus, Kasie Ekbang Kecamatan, Camat se Kabupaten Kudus, Tenaga Ahli, Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa Kab. Kudus. **** salam damai kang saleh – ta pp kudus.
