Napas Kerelaan di Payaman: Saat Koperasi Desa Bertumbuh Tanpa Pamrih

Oleh: Wilujeng Suryono (PD Kecamatan Mejobo)

Editor: Moh Ali Khomsin (jamudesa.com/ TAPM Kab Kudus)


PAYAMAN, KUDUS (5/10/2026). Di sudut Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, sebuah ikhtiar kemandirian ekonomi desa sedang dirajut dengan cara yang sederhana, namun sarat makna. Di saat banyak lembaga ekonomi perdesaan bergantung pada kucuran dana segar di awal berdiri, Koperasi Desa (KDMP) Payaman justru memilih jalan berdikari: modal thuthuk-an atau iuran patungan sukarela.

“Awalnya ya itu, dari anggota sama pengurus kita ban-ren (iuran) dikit-dikit. Thuthuk-an untuk modal awal,” ujar Suroso, Wakil Ketua Bidang Anggota KDMP Payaman, saat ditemui di sela-sela aktivitasnya di Kantor Balai Desa Payaman, Senin (5/10/2026).

Suroso, Wakil Ketua KDMP Payaman Kab Kudus menunjukan beras kemasan berlabel “KOPDES Payaman” (5/10/2026)

Senyum Suroso mengembang ketika mengenang masa-masa awal rintisan tersebut. Langkah nekat namun terukur itu terbukti berbuah manis. Seiring berjalannya roda usaha, keuntungan demi keuntungan dikumpulkan hingga seluruh pinjaman awal pengurus dan anggota lunas 100 persen.

“Alhamdulillah sudah balik (Break Even Point,red), modal thuthuk-an sudah kembali penuh, dan sekarang sudah ada saldonya sendiri. Ditambah lagi modal dari simpanan pokok dan simpanan wajib anggota yang terus masuk,” jelas Suroso.

Rotasi Tabung Gas dan Kas Saling Percaya

Saat ini, KDMP Payaman telah menaungi sekitar 130 anggota. Tingkat kedisiplinan pembayaran iuran wajib pun terbilang tinggi, mencapai 60 persen per bulan. Menariknya, mekanisme penarikan iuran dibuat sefleksibel dan seorganis mungkin, menyesuaikan dengan unit usaha utama yang tengah berjalan, yaitu distribusi gas LPG 3 kg subsidi.

Suroso menceritakan bahwa untuk sementara pasokan gas diprioritaskan bagi anggota koperasi. Setiap kali pasokan gas masuk dari pangkalan -dengan kuota berkisar 30 hingga 60 tabung per pengiriman dan target bulanan 300 tabung- pengurus membuat daftar gilir di grup WhatsApp.

“Anggota yang mengambil gas sekalian membawa buku anggota dan membayarkan iuran wajibnya. Jadi sekali jalan, urusan kebutuhan dapur dan kewajiban koperasi selesai,” terang Suroso.

Tak hanya gas, kedai kelontong KDMP Payaman juga menyediakan kebutuhan pokok harian seperti sembako hingga agen pembayaran online (PPOB).

Pada momen Hari Raya Lebaran lalu, toko koperasi ini bahkan berhasil menyalurkan hingga 2 ton beras kemasan 2,5 kg kepada warga. Toko ini setia melayani warga setiap hari kerja, Senin hingga Jumat, dari menjelang siang hingga sore hari.

Kerja Sosial Tanpa Bayaran

Di balik geliat usaha yang kian sehat ini, ada pengorbanan sunyi dari para pengurusnya. Hingga satu tahun lebih pasca berdiri pada September tahun lalu, tak ada satu rupiah pun insentif atau gaji yang masuk ke kantong para pengelola toko. Semua pengurus bergantian menjaga toko secara sukarela tanpa honorarium.

“Sementara belum ada bayaran, murni kerja sosial. Yang penting usahanya lancar dan bisa jalan dulu,” tutur Suroso tertawa lirih.

Kegigihan ini dipadukan dengan tata kelola organisasi yang solid. Setiap bulan sekali, rapat kerja (raker) rutin digelar untuk mengevaluasi perkembangan usaha dan merancang langkah strategis ke depan.

Menembus Keterbatasan, Menatap Sinergi BUMDes

Langkah KDMP Payaman bukannya tanpa kerikil. Potensi besar sebenarnya sudah ada di depan mata. Koperasi telah mengantongi ‘kesepakatan’ (deal) distribusi dengan PT Pupuk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pupuk para petani lokal.

Namun, rencana besar itu sementara harus tertahan lantaran terkendala lahan pembangunan gerai fisik KDMP yang masuk dalam zona Lahan Sawah Dilindungi (LSD).

Meski begitu, keterbatasan lahan tak menyurutkan langkah ekspansi. Koperasi kini tengah menyiapkan sinergi strategis bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Payaman. Dalam skema kerja sama mutualisme ini, BUMDes siap menyuntikkan modal berupa mesin depo air minum isi ulang, sedangkan operasional harian akan dikelola penuh oleh KDMP.

“Semua ke depannya terbentur modal dan fasilitas, tapi peluang kerja sama dengan BUMDes sudah ‘ada’. BUMDes menyediakan mesin isi ulang air, kami dari KDMP yang menjalankan,” pungkas Suroso optimis.

Dari sebuah ruang kerja sederhana di Desa Payaman, Koperasi Desa ini membuktikan satu hal. kemandirian ekonomi tak selalu lahir dari modal besar, melainkan dari semangat gotong royong, keikhlasan pengurus, serta kepercayaan warga yang terus dirawat.

Leave a Reply

Discover more from JAMU DESA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading