
JamuDesa.com, KUDUS (24/9/2026). Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, berhasil menembus 9 besar nasional dalam ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).
Keberhasilan ini ditandai dengan dilaksanakannya kegiatan Verifikasi Lapangan Desa Berkinerja Baik dalam Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Nasional Tahun 2026 di Balai Desa Kesambi pada Kamis (24/9/2026).
Rangkaian kegiatan verifikasi ini diawali dengan penyambutan resmi tim penilai oleh Bupati Kudus di Pendopo Kabupaten Kudus pada Rabu malam (23/9/2026) pukul 19.30 WIB. Penilaian dilanjutkan dengan peninjauan lapangan secara intensif untuk mencocokkan dokumen serta melihat langsung berbagai praktik baik dan inovasi pencegahan stunting di Desa Kesambi.
Proses Seleksi Ketat Berbasis Tiga Regional
Ajang Lomba Desa Berkinerja Baik merupakan program apresiasi tata kelola pemerintahan desa dan inovasi pembangunan yang telah memasuki tahun ketiga sejak diluncurkan pada 2024. Penilaian dilakukan berjenjang mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi untuk menjaring wakil terbaik di tingkat nasional.
Ismi Nurmawati dari Kementerian Desa PDTT menjelaskan bahwa dari seluruh usulan provinsi, ditetapkan nominasi terbaik berdasarkan tiga wilayah regional (Barat, Tengah, dan Timur) dengan total sembilan desa yang lolos ke tahap verifikasi lapangan. Untuk menjaga netralitas dan keterpaduan program, penilaian ini juga melibatkan tim lintas kementerian dan lembaga, seperti Bappenas, Kementerian Dalam Negeri, Kemenko PMK, Setwapres, Badan Gizi Nasional (BGN), dan Kemenkes.
“Inovasi itu kan kalau kita melihat berkas atau wawancara rasanya kurang maksimal ya. Sehingga kita datang langsung ke sini diharapkan bisa mengecek ke lokasi inovasinya, melihat bentuk inovasinya seperti apa dan bagaimana praktik baiknya di lapangan. Nah, itu yang akan memperkuat penilaian,” ujar Ismi Nurmawati saat di temui awak JamuDesa.com (24/9/2026).
Komitmen Pelayanan dan Penanganan Stunting Terpadu
Dalam acara di Balai Desa Kesambi, Kepala Desa Kesambi, M. Masri, menyampaikan paparan mengenai tantangan kewilayahan yang dihadapi desanya, mulai dari risiko banjir saat musim hujan hingga perjuangan menuntaskan masalah stunting secara terpadu.
Menurut Masri, penanganan stunting di Desa Kesambi tidak hanya bergantung pada pemberian makanan tambahan, melainkan juga menyentuh akar permasalahan lingkungan dan sosial. Langkah terintegrasi yang ditempuh meliputi penataan sanitasi, penyediaan akses air bersih, perbaikan hunian, hingga edukasi pola asuh anak bersama tim Posyandu, TP-PKK, kader kesehatan, dan dukungan kolaborasi dari Bakti Sosial Djarum Foundation.
Tak hanya sektor kesehatan, Pemerintah Desa Kesambi juga mengalokasikan Dana Desa secara berkelanjutan untuk program pemberdayaan masyarakat, seperti pelatihan keterampilan kelompok disabilitas serta pemberian bantuan modal dan bibit/ternak produktif bagi warga rentan.
Masri menegaskan bahwa seluruh kerja keras tersebut dilakukan murni atas dasar pengabdian kepada warga desa.
“Jujur Bapak Ibu, tujuan kami bukan untuk ikut lomba. Kami hanya menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan anjuran dari pemerintah pusat. Motivasi kita bukan untuk lomba, tetapi untuk melayani masyarakat dan membebaskan desa kita dari stunting,” tegas Kepala Desa Kesambi, M. Masri.
Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah desa, kader, dan mitra pendamping, Desa Kesambi optimistis mampu memberikan inspirasi dan hasil terbaik dalam verifikasi penilaian tingkat nasional ini.
Dukungan Pemda
Keberhasilan Desa Kesambi melangkah hingga ke tingkat nasional tidak lepas dari dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Kudus melalui kolaborasi lintas sektor yang solid. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Kudus, Famny Dwi Arfana, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari kerja keras kolektif seluruh elemen di lapangan. Sinergi yang terbangun melibatkan berbagai unsur, mulai dari Pendamping Desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Bidan Desa, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), hingga pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang secara terpadu “ngeroyok” atau mengeroyok penanganan stunting dari hulu ke hilir.
Famny mengapresiasi keberanian dan komitmen Desa Kesambi yang mampu mengelaborasi seluruh potensi dan kekuatan kewilayahan, termasuk menjalin kemitraan strategis dengan pihak ketiga seperti Djarum Foundation.
Menurutnya, semangat kebersamaan ini murni didasari oleh kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar demi mengejar penghargaan ajang lomba.
“Ada atau tidak ada lomba, Desa Kesambi terus mengelaborasi semua kekuatan. Ini adalah hasil kerja keras semua pihak,” ungkap Kepala Dinas PMD Kabupaten Kudus, Famny Dwi Arfana.
Dukungan Djarum
Dukungan nyata bagi Desa Kesambi menuju penilaian lomba tingkat nasional ditunjukkan oleh Bakti Sosial Djarum Foundation melalui Program Sanitasi Terpadu, yang sejak 2024 konsisten mendorong perubahan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat.
Melalui pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), seluruh elemen warga -mulai dari tokoh masyarakat, kelompok perempuan, hingga anak-anak sekolah- dilibatkan aktif dalam merumuskan dan mengelola sanitasi saniter.
Komitmen ini terbukti tahun 2024, terbangun 89 unit jamban, meningkat menjadi 349 unit pada 2025, dan puncaknya pada tahun 2026 ini mencapai 434 unit sanitasi individu, 50 sambungan rumah PDAM, serta 32 fasilitas umum seperti masjid, sekolah, dan makam. Fasilitasi sarana ini dikhususkan bagi keluarga kurang mampu, sementara warga dari kelompok mampu didorong untuk berswadaya.
Kesadaran masyarakat yang meningkat turut mendorong warga mampu untuk berswadaya, menciptakan sinergi kuat dengan Pemerintah Desa karena menyadari bahwa akses air bersih dan sanitasi layak merupakan kunci utama dalam memutus rantai penyebab stunting di Desa Kesambi.
“Program ini tujuan utamanya adalah mengubah perilaku masyarakat tentang hygiene dan sanitasi agar mereka paham dan butuh layanan air minum serta sanitasi aman. Ketika masyarakat miskin kita fasilitasi sarananya dan warga mampu berswadaya, kita melihat dampaknya langsung pada penurunan risiko stunting. Menurut saya sangat wajar dan layak jika Desa Kesambi menjadi perwakilan Jawa Tengah di tingkat nasional,” ujar PIC Program Sanitasi Terpadu Djarum, Edi Triyanto, saat d tanya Jamudesa.com tentang keyakinan inovasi dan peluang lomba (24/9/2026).

Kesambi Menjawab Tantangan
Ketua KSM Tirta Saras Kesambi, Adi Prasetyo, menceritakan perjalanan mengubah kebiasaan masyarakat Desa Kesambi menuju sanitasi aman tidaklah mulus, sebab pada awal program tahun 2024 penolakan warga sempat marak akibat kekhawatiran akan biaya penyedotan rutin septic tank berstandar SNI.
Namun, berkat pendekatan humanis yang konsisten, melalui pengajian, rembuk RT selapanan, hingga sosialisasi intensif bersama Posyandu dan TP PKK, kepercayaan warga berhasil dibangun secara bertahap.
Edukasi mengenai keunggulan septic tank kedap air berteknologi resapan bersih yang teruji ramah lingkungan serta pembangunan 32 fasilitas sanitasi umum di lokasi-lokasi krusial seperti musala dan makam akhirnya memicu kesadaran masif, hingga permintaan sarana sanitasi warga melonjak tajam pada tahun-tahun berikutnya.
“Di awal 2024 penolakan itu banyak karena warga mikirnya septic tank ini harus disedot berkala dan butuh biaya, tapi lewat pendekatan telaten di kumpulan RT dan pengajian, warga mulai paham kualitasnya. Septic tank ini kita uji kedap air 24 jam dan yang keluar ke resapan sudah air bersih, sehingga lingkungan jauh lebih aman dan tidak mencemari,” ungkap Ketua KSM Tirta Saras Kesambi, Adi Prasetyo yang biasa dipanggil Doyok (24/9/2026).
Untuk diketahui, dalam pelaksanaan merubah perilaku hidup masyarakat sehat ini terdapat story sukses.
“Pak Norman sekarang jadi toko bangunan, dulu kecil sekarang besar, karena bahan material pembuatan sanitasi harus dibeli dari desa sendiri,” ujat salah satu warga Desa Kesambi.
“Tukang-tukang bangunan dilatih khusus sanitasi sehingga peduli sanitasi, sekarang terbentuk paguyuban. Tukang tersebut akan membangun sanitasi sesuai standar”, tutupnya.
*) Moh Ali Khomsin (TAPM Kabupaten Kudus)
