KUDUS, JamuDesa. Persoalan sampah sering menjadi pembicaraan, tapi tetap saja belum kunjung selesai, sebagaimana di tempat pembuangan sementara (TPS). Kepala Desa Blimbing Kidul Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Purnomo mengatakan, dari 17 dam truck sampah, hanya terambil 7 dam truck saja yang bisa diangkut, dampaknya bau dan penyakit. Untuk mengatasi, mencari solusi persampahan tersebut, butuh parhatian semua pihak.
Masyarakat Blimbing Kidul berharap sampah yang ada di TPS bisa rutin diambil setiap minggu oleh Dinas PUPR, sehingga tidak menumpuk dan menjadi muara polusi maupun penyakit. Disamping itu, masyarakat Blimbing Kidul berharap mempunyai solusi atas persoalan sampah kedepannya.
Pendamping Desa Kecamatan Kaliwungu, Eka Witri Wijayanti bersama dengan PKK, tokoh masyarakat setempat dan Kepala Desa Blimbing Kidul berupaya mencari solusi mengatasi sampah. Dampak dari persoalan sampah, terlaksanalah sosialisasi pengelolaan sampah di Blimbing Kidul, Jum’at (24/2) dihadiri Kepala Desa, BPD, ibu – ibu PKK, KPMD, dan masyarakat pemerhati lingkungan.
“Soal sampah dan bagaimana mengatasinya, itu tergantung kita semua, mengartikan sampah itu apa, kalau sampah kita anggap residu rumah tangga dan tiada nilai ekonomisnya, maka ujung-ujungnya kita buang begitu saja” kata Moh Ali Khomsin, narasumber dari Tenaga Ahli PSD P3MD Kudus.
Sebab itu, kata Khomsin perlu kebersamaan, kekompakan dan partisipasi masyarakat, dengan melakukan pemilahan sampah sejak awal di tingkat rumah tangga, sebelum diambil petugas atau dibawa sendiri ke shelter (tempat penampungan sampah). “Di harapkan setiap rumah tangga mempunyai kartu rekening sampah sebagai tabungan rumah tangga, secara nominal memang sedikit, tapi sedikit demi sedikit, tahu tahu nanti menjelang hari raya bisa bermanfaat,” papar Ali Khomsin.
Sri Setuni, dari Seruni Handmade, yang menjadi narasumber mengatakan, sampah dapat dikreasikan menjadi tas, dompet, vas bunga, boneka, dan lain sebagainya, yang dapat di jual. Bahkan menurut Sri yang sudah menggeluti kreasi sampah sejak tahun 2012 ini dapat ikuti pameran ke Negera Belanda hanya dengan sampah. “Jadi ibu-ibu khususnya, yang semangat mengumpulkan sampah di rumah ya nanti saya beli, dan kalau mau ibu-ibu bisa belajar kreasi sampah ditempat saya, Jati Wetan, gratis,” kata Sri.
Sementara itu Sri Susanti Pendamping Desa (PD) Kaliwungu, berharap dari pertemuan ini terbentuknya pengurus bank sampah di tingkat Desa. “Rekemondasi dari kegiatan ini nanti adalah pembentukan pengurus bank sampah, sehingga bisa langsung ditindaklanjuti kegiatan sosialisasi ditingkat warga untuk melakukan pemilahan sampah di tumah tangga,” papar Sri Susanti. (salam damai m ali khomsin-ta psd-kudus)
