
Kudus.JamuDesa. Pendopo Kabupaten Kudus pada Kamis malam kemarin tak seperti biasanya. Walau diguyur hujan lebat, peserta Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Untuk Pengembangan Masyarakat Petani Sejahtera di Kudus, berlangsung hangat dan penuh keakraban.
Hasan Aoni mantan Direktur PDAM Kudus yang didaulat sebagai moderator sukses menampilkan Ir Luwarso Owner Koperasi Ar Rahmah PT Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) Pangan Sukabumi, Ahmad Bahruddin Pengasuk Pondok Pesantren Qoryah Toyyibah Salatiga, Dr Pratomo dari Yayasan Obor Tani, Prof Sony Heru P, Prof Totok Agung DH, Prof Nur Taufiq, Sudarmoko dan tak lupa tuan rumah, Bupati Kudus Dr H Musthofa.

Luwarso menjelaskan secara gamblang pola atau model korporasi petani di PT. BUMR Pangan Sukabumi, dari hulu sampai hilir, pembinaan petani disektor hulu terkait budidaya, sampai sektor hilir yaitu pemasaran. Statemen Luwarso yang perlu dicatat adalah pola korporasi petani ini sangat mungkin diterapkan di daerah lain, termasuk Kota Kudus Jawa Tengah.
Luwarso mengatakan, kesejahteraan petani di Indonesia rata-rata masih memprihatinkan. Jalur distribusi pangan yang begitu panjang membuat petani hanya menjadi produsen yang nyaris tak pernah merasakan untung. “Petani sering kali dipermainkan oleh pihak yang mengambil keuntungan dari jalur distribusi yang begitu panjang. Sebagai contoh oleh para tengkulak skala besar,” katanya di Pendopo Kabupaten Kudus Kamis (25/1/18) malam.

Akar persoalan petani Indonesia sulit berkembang, menurut Luwarso, karena adanya gap distribusi yang panjang dari hulu ke hilir. Dalam sistem ini, tentu saja yang bisa menikmati keuntungan lebih banyak adalah pemodal.
Gap distribusi ini, menurut dia, akan terpangkas jika pemangku kebijakan bisa melibatkan petani untuk ikut berkiprah dalam sistem distribusi ini, di antaranya dengan membentuk korporasi yang dikelola petani. “Selama ini harga banyak dimainkan oleh tengkulak. Petani dipaksa untuk menjual hasil pertanian jauh dari standar dengan alasan untuk menutup biaya distribusi. Padahal sampai kepada konsumen harga sudah melambung begitu tinggi,” papar Luwarso.

Dikatakan, Koperasi Ar Rahmah membangun BUMR Pangan untuk menjamin kualitas produksi dan pemasaran produksi petani yang merupakan anggota Koperasi Ar Rahmah. Luwarso mengatakan dengan adaya BUMR Pangan dibangun Rice Mill, dengan demikian penjualan gabah petani terjamin harganya. “Saat ini BUMR pangan membeli gabah dari petani, diatas HET pemerintah,” kata Luwarso.
Produksi BUMR Pangan Sukabumi saat ini mencapai 1,5 ton per jam dengan luas lahan pertanian 1.000 ha. Menurut Luwarso, kluster pangan nantinya tidak hanya memproduksi beras tapi tujuh komoditas utama pertanian, yakni beras, jagung, kedelai, bawang merah, tebu, hortikulutura dan peternakan.
Secara umum, ada empat program unggulan yang dimiliki oleh PT BUMR Pangan seperti pemberian pinjaman (budi daya tanaman padi) tanpa bunga bagi petani yang telah menjadi anggota, dibayar panen Gabah Kering Panen (GKP), pendampingan petani, dan asuransi gagal panen (puso).

Tim yang dipimpin Luwarso sudah melakukan survey kelayakan lahan pertanian di tiga desa antara lain ; Desa Wonosoco, Kutuk dan Undaan Kidul Kecamatan Undaan. Selain itu, di wilayah pegunungan Kendeng, direncanakan pembangunan Embung desa, yang diharapkan mampu mengaliri persawan disekitar Undaan. Dan satu lagi Embung Desa di Desa Ternadi Kecamatan Dawe.

Bupati Kudus Musthofa optimis proyek BUMR Pangan ala Sukabumi bisa didirikan di Kota Kretek. Kata Bupati, secepatnya melakukan MoU dan salah satu Pembangunan Embung desa melalui APBD perubahan. “Di Dunia ini tidak ada yang abadi, kecuali perubahan. Ayo kita berubah melalui pertanian,” tegasnya.

Tampak hadir diantaranya Assisten Pemerintahan, Keuangan, Kepala Bapelitbangda, Dinas PMD, Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan, Diskominfo, Camat Undaan, Kepala Desa Wonosoco beserta perangkat, pelaku UKM, aktifis Gapoktan, TA P3MD, Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa. Sebelum diskusi, semua peserta disuguhi hidangan khas Kudus, Soto Kerbau. *** salam damai – kang saleh ta pp kudus.

