Desa Jati Kulon Studi Banding ke Blederan Wonosobo

WONOSOBO. JamuDesa. Desa Jati Kulon Kecamatan Jati Kabupaten melakukan studi banding atau stuba ke Desa Blederan Kecamatan Mojotengah Kabupaten Wonosobo yang merupakan kampoeng wisata sayur, hari ini, Minggu 11 November 2018. Rombongan dari Jati Kulon diterima di rumah tokoh masyarakat desa Blederan, Nasrul Waton.

Kepala Desa Jati Kulon, Sugeng, menyatakan bahwa tujuan studi banding ini untuk memberikan motivasi dan inspirasi kepada warga.

“Tujuan kegiatan (studi banding, red) ini agar masyarakat termotivasi lebih mandiri dengan beragam kegiatan pemberdayaan masyarakat”, kata Sugeng.

Kades Sugeng menekankan bahwa program ini akan jalan terus. Kita tidak ingin jadi juara. Tapi kita ingin masyarakat kita berdaya.

“Masyarakat tidak harus selalu menuntut kepada Desa. Karena sejatinya masyarakat mempunyai potensi yang besar, dan Desalah yang mengorganisir dan mengarahkan”, kata Kades Sugeng.

Ketika ditanya JamuDesa soal biaya. Kades Sugeng dengan tegas menjawab bahwa biaya ini mandiri dan desa hanya membantu transport dan rombongan dari luar desa.

“Biaya untuk stuba yang membawa 135 orang dari perwakilan setiap RT ini adalah dana mandiri dari relawan pengelola sampah dan untuk lainnya misal transport, makan dan rombongan diluar Desa dari hadiah lomba desa”, Kades Sugeng menambahkan.

Sejarah singkat kampoeng wisata sayur Blederan

Sekretaris Desa Blederan, Ida Yuliani, mengatakan bahwa awal mula Desa ini menjadi kampung wisata sayur ini tidak ujug-ujug (tiba-tiba, red).

Perjalanan kita 4 tahun. Tahun 2014, dirinya yang waktu itu selaku pendamping LPTP (Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan) yang kantornya di Solo, bekerjasama CSR PT Tirta Investama, pemegang merk Aqua, mengadakan pemberdayaan di Desa Blederan, kemudian dirinya mengajak ibu-ibu semua untuk menggali potensi yang ada di Desa, jadi tidak langsung ketemu desainnya, karena dari awal kita tidak tahu apa-apa tapi berpedoman dengan potensi lokal.

“Ibu-ibu kita ajak berdiskusi, kemudian ada salah satu peserta diskusi mengusulkan untuk mengadakan kegiatan memanfaatkan pekarangan dengan menanam sayuran. Meskipun Wonosobo terkenal dengan sayuran, namun berdasar dari profil Desa, Desa Blederan terdiri dari 855 KK, tapi yang mempunyai lahan produktif hanya 200 KK”, ungkap Ida.

Menurut pengakuan Ida Yuliani yang baru dua bulanan menjabat sebagai Sekretaris Desa Blederan, meskipun kita membawa CSR Aqua, kita malah diminta membuktikan tekad.

“Justru kita diajak prihatin (berikhtiar dahulu, red). Setelah ibu-ibu berdiskusi, mengenali masalah dan diajak jalan-jalan untuk mencintai tanaman, setelah deket dengan tanaman, akhirnya kita langsung action untuk menanam tanaman,” papar Ida.

Tanaman pertama yang dulu itu bermacam-macam, ada terong, cabe, bayam, loncang, dan lain semuanya ditanam. Karena waktu awal belum tahu dan masih meraba – raba, dan alhasil ibu-ibu ketemu dengan tanaman kucai. Dan ternyata kebutuhan Kucai di Wonosobo sangat banyak. Karena setiap makanan di Wonosobo itu menggunakan Kucai.
Dari survey, kebutuhan Kucai per kecamatan itu 700 ikat, dengan harga 2000 per harinya.

Akhirnya kita bergerak untuk menambah tanaman lagi, tapi juga kesulitan benih. Akhirnya kita ganti tanaman yang mudah, seperti sawi yang jenisnya bermacam-macam, Selada, loncang, bayam.

“Tujuan menanam itu satu untuk keperluan pribadi dulu, jangan mikir ke pemasaran, kalau dikita, yang penting ibu-ibu merasakan dulu, hasil tanaman yang Kita tanam dengan sistem organik”, lanjut Ida.

Setelah ibu-ibu puas dengan kebutuhan pribadi, akhirnya diputuskan untuk memperbanyak untuk memenuhi permintaan pasar, setelah diperbanyak, ternyata pedagang itu datang dengan sendirinya.

Bahkan kebutuhan selada perhari itu 10-30 kg. Dengan harga 5.000 sampai 12.000. Dengan demikian kalau diambil rata-rata per hari mampu panen 50 kg dengan harga 10.000 maka per hari ibu-ibu memperoleh 500.000 per hari. Berapa kalau per bulan, per tahun berapa, tanya Ida. Ini untuk memotivasi ibu-ibu, jadi ditengah-tengah kita prihatin untuk konsumsi, ternyata muncul ekonomi.

Dari dua tujuan itu kita tetap bertahan, akhirnya pada tanggal 24 September 2018, resmi sebagai kampoeng wisata sayur. Dan akhirnya dapat menambah income lagi dari kunjungan-kunjungan lokal Wonosobo maupun dari luar Wonosobo. Akhirnya menambah pendapatan bagi masyarakat juga.

Selain itu, di tahun 2018, kita digandeng dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Wonosobo untuk mengajukan Program Kampung Iklim tingkat nasional. Alhamdulillah juara. Kita dari awal bertahan dengan dua tujuan itu, ternyata bonusnya luar biasa banyaknya. Dan yang ditanam adalah tanaman yang mudah. Bukan cabai, meskipun harga tinggi, tapi itu untuk orang-orang yang sudah ahli-ahli dalam menanam cabai.

Kalau untuk tujuan ekonomi, untuk kebersamaan, disini kita menanam yang mudah dan tidak banyak jenisnya. Tapi kalau untuk tujuan pribadi, monggo banyak jenis tanaman tidak apa. Nah seperti tanaman didepan kita ini untuk kas RT, yang ditanam satu atau jenis.
Tujuannya kalau pas panen dan dijual itu langsung banyak. Karena kalau bermacam – macam nanti pedagang bingung.

Ini memang ibu-ibu yang diberdayakan, karena ibu-ibu adalah penyayang. Apalagi pas musim hujan. Begitu sayangnya terhadap tanaman. Karena penanaman dimulai dari hati dari sebuah kecintaan.

Dari penjelasan singkat dari Ida Yuliani tersebut rupanya membuat rombongan dari Desa Jati Kulon ini sangat antusias. Banyak pertanyaan yang dilontarkan dan Ida pun sabar melayani. Nampaknya, tujuan studi banding ini berhasil memantik semangat masyarakat Desa Jati Kulon ini.

Orientasi Lapangan

Rombongan Desa Jati Kulon dibagi menjadi tiga kelompok dalam melakukan kunjungan lokasi.
Dari pantauan rombongan stuba dan JamuDesa memang setiap rumah mempunyai tanaman sayuran. Bahkan di sekitar rumah sekalipun nampak sempit.

Peserta stuba yang telah banyak bertanya dan konsultasi sewaktu acara penerimaan pun nampak sering bertanya dan konsultasi kepada ibu-ibu warga Desa di saat kunjungan lapangan ini. Dan tidak sedikit peserta stuba ini mencatat dikertas mungil yang ia bawa.

Kesan bersih, rapi, hijau asri banyak tanaman sekaligus bernilai ekonomis nampak memenuhi disetiap sudut Desa.

Dari pengakuan warga desa blederan saat orientasi lapangan, di Desa terdapat 2 KWT atau kelompok Wanita Tani. Dari kelompok inilah budaya menanam sayuran bermula.

Dana Desa

Pengakuan kepala Desa Blederan Yudi Cahyadi, Dana Desa 2016 untuk bantuan KWT sebesar 10 juta, dan dana desa tahun 2017 sebesar 20 juta untuk KWT.

“bantuan itu untuk membeli polibag, bambu dan material yang dibutuhkan, bukan untuk membuat saung. Saung itu inisiatif warga, dan mereka terpanggil untuk itu, bukan karena diarahkan apalagi dipaksa”, terang Kades Yudi.

Acara stuba ini terdiri dari sambutan selamat datang dari Kepala Dusun Blederan, lanjut dengan sambutan pak Agus Raharjo Sami’un dari Dinas Lingkungan Hidup Wonosobo tentang penjelasan Desa proklim.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Dinas PKPLH Kudus lalu penjelasan dari pendamping LPTP Desa Blederan yang sekaligus sekretaris Desa Blederan dan terakhir orientasi lapangan, dimana rombongan dapat melihat, mengamati, dan belajar cara menyemai, dan menanam, serta mengambil inspirasi dari warga. Salam Merdesa! Khomsin.

Leave a Reply

Discover more from JAMU DESA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading