Oleh TPP Undaan
KUDUS.JamuDesa.com (8/11/2025). Di balik rimbunnya hutan jati Minggu legi (06.00 – 9.00 WIB) di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, terdapat sebuah dorongan kehidupan ekonomi dan budaya yang unik: Pasar Sarwono. Pasar tradisional ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang pemberdayaan yang berhasil menjadikan Desa ini salah satu contoh praktik baik dalam pemanfaatan Dana Desa.
Berangkat dari kekayaan potensi alam, budaya, dan kearifan lokal yang kuat, termasuk keberadaan wisata Goa Jepang dan tradisi ekonomi kerakyatan, masyarakat Desa Wonosoco menyadari kebutuhan akan ruang ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga identitas lokal. Lahirlah Pasar Sarwono yang dikelola secara partisipatif dan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah desa hingga Karang Taruna.
Membangun Kemandirian Berbasis Kearifan Lokal

Pasar Sarwono mengusung tema “Penguatan Ekonomi Lokal dan Pelestarian Budaya Desa Wonosoco” . Pasar ini menjadi wadah bagi 28 pedagang lokal yang menjajakan produk-produk khas desa, seperti hasil pertanian, kuliner tradisional, dan kerajinan tangan. Penguatan konsep tradisional menjadi ciri khas, di mana seluruh penyajian makanan dan minuman menggunakan gerabah dan alat-alat tradisional lainnya .
Suasana ini, ditambah dengan lokasi di bawah rindangnya pohon jati, sukses menarik minat pengunjung. Kapasitas pasar saat ini dikisaran 1.500 pengunjung, dan bahkan pernah mencapai 2.926 pengunjung saat Anniversary .
Pengelola utamanya adalah BUM Desa Wonorekso Wonosoco , yang didukung penuh oleh Dana Desa sejak akhir tahun 2022 hingga rencana di tahun 2025. Total anggaran Dana Desa yang dialokasikan mencapai lebih dari Rp 145 juta, digunakan untuk penyertaan modal BUM Desa dan belanja desa untuk lapak wisata.
BUM Desa Wonorekso Wonosoco ini gawangi: Tri Budi Wahono, (Direktur),
tri budi wahono (Ssekretaris) dan Suwarj (bendahara) dengan penasihat dijabat rangkap oleh Kepala Desa Wonosoco Setiyo Budi, dan Pengawas Haryoto.
Peran Vital Pendampingan

Keberhasilan Pasar Sarwono tidak terlepas dari peran aktif Tenaga Pendamping Profesional (TPP) . Para pendamping, seperti Muhamad Triyanto (PLD) , Temon (PD) , dan Budi Setiawan (PD) , hadir mendampingi masyarakat dan pemerintah desa, memastikan pembangunan berbasis potensi lokal berjalan kreatif dan mandiri.
Peran TPP dalam praktik baik ini mencakup beberapa aspek kunci:
- Fasilitator Pemberdayaan: TPP memastikan kegiatan BUM Desa dalam pengelolaan Pasar Sarwono sesuai dengan kebutuhan masyarakat nyata melalui pendekatan partisipatif.
- Penguatan Kapasitas Masyarakat: Memberikan pelatihan teknis, manajerial, hingga motivasi kewirausahaan bagi pengelola BUM Desa, Karang Taruna, dan kelompok masyarakat, yang berakhir pada lahirnya inovasi dan penguatan ekonomi kreatif.
- Katalisator Kolaborasi: Menjembatani desa dengan berbagai pihak eksternal, seperti Djarum Foundation, Lokadata, Perkumpulan Desa Lestari, Universitas Muria Kudus, SIRKULA, dan lainnya.
- Mendorong Replikasi Praktik Baik: Pasar Sarwono tidak hanya bermanfaat secara lokal, tetapi juga berpotensi menjadi model pembangunan desa yang inklusif dan berkelanjutan di tingkat regional maupun nasional.
Dampak Nyata dan Pengembangan Jangka Panjang

Pengelolaan Pasar Sarwono telah memberikan dampak positif yang terukur di berbagai sektor:
- Dampak Ekonomi: Peningkatan pendapatan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, dan perputaran ekonomi desa yang signifikan. Kontribusi pada Pendapatan Asli Desa (PADesa) cenderung meningkat, dari Rp 2.584.447,- (2022), Rp 2.042..047 (2023(, hingga Rp 3.710.000,- (2024) .
- Dampak Sosial: Pasar menjadi ruang interaksi, memperkuat solidaritas, serta memberdayakan kelompok rentan seperti perempuan dan pemuda.
- Dampak Budaya dan Pariwisata: Pasar Sarwono menjadi ruang pelestarian kuliner dan budaya tradisional, sekaligus menjadi ikon baru yang menambah daya tarik Desa Wonosoco sebagai destinasi wisata.
Ke depan, BUM Desa Wonorekso Wonosoco memiliki rencana ambisius untuk mengembangkan berbagai potensi wisata alam dan budaya, antara lain:
- Perluasan dan Penataan Pasar Sarwono (membuat lapak baru, jalur pasar, panggung permanen).
- Pengembangan Camping Ground (perluasan area, penambahan fasilitas pendukung).
- Pengembangan Kolam Renang di Sendang Dewot .
- Pengembangan Homestay dan Pelatihan Pemandu Alam/Outbond untuk mendukung paket wisata.
- Pengembangan Museum Wayang Klithik dan Perlengkapan Festival Budaya untuk melestarikan warisan budaya khas desa.
Pasar Sarwono membuktikan bahwa pembangunan desa yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan adalah mungkin, menjadikannya contoh nyata pembangunan desa berbasis ekonomi kerakyatan yang patut direplikasi.
Editor: Moh Ali Khomsin

