Oleh Moh Ali Khomsin
Generasi Z dikenal sebagai generasi yang melek teknologi, namun di Desa Jojo, Kabupaten Kudus, salah satu wakil Gen Z memilih jalur pengabdian yang lebih tradisional namun penuh tantangan: birokrasi desa. Ia adalah Alfina Damayanti.
Di usianya yang baru 24 tahun, Alfina Damayanti kini menjabat sebagai Sekretaris Desa Jojo, sebuah posisi strategis yang menuntut kecakapan administrasi dan kepemimpinan. Lulusan UIN Walisongo Semarang Tahun 2022 dari Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam ini berhasil lolos rekrutmen perangkat desa pada Tahun 2023.
Apa yang mendorong seorang Gen Z dengan latar belakang keilmuan agama terjun ke pemerintahan desa?
“Ada kesempatan aja sih, ada iklan, ada lowongan perangkat, dan sebelum lulus itu ada program KKN, itu kebetulan di Desa Cranggang (Dawe,red), itu kayak dapat banyak pelajaran, kayak pingin mengembangkan desa, yang kurang lebih seperti Desa Jojo,” ungkap Alfina saat ditemui JamuDesa (12/11/2025).
Motivasinya diperkuat oleh pengalaman masa lalu sang ayah.
“Disamping itu, dulu almarhum ayah pernah menjadi RT, selama menjadi 2 periode, ia menjadi tahu, dinamika menjadi RT, meskipun jauh dari perangkat, kan ada RT, RW, lanjut perangkat desa, cukup sebagai bekal mental dan pengetahuan mengurusi masyarakat desa,” imbuhnya.
Pengalaman ini membentuk mental dan pengetahuan untuk mengurusi dinamika masyarakat.

Tantangan Regulasi dan Teamwork Lintas Generasi
Meskipun memiliki tekad kuat, Alfina mengakui bahwa adaptasi awal bukan perkara mudah. Jurusan kuliahnya yang non-pemerintahan membuatnya harus belajar secara otodidak di lapangan.
“Adaptasi awal, dijalani saja, awalnya susah, karena memang jurusan kuliah bukan di bidang pemerintahan, belajarnya otodidak,” kisahnya.
Namun, keberuntungan berpihak padanya. Ia tidak sendirian. Alfina masuk bersama tiga perangkat desa baru lainnya.
“Kebetulan 4 orang perangkat baru, satu angkatan, saya, mas teguh, mba ratih, sama mas erwin, … jadi itu kayak bisa belajar bareng, kemana-mana bareng,” kenangnya, menunjukkan pentingnya dukungan tim sebaya.
Kesulitan utama yang dihadapi di awal adalah tuntutan kerja yang terkesan mendadak dan padat, terutama terkait regulasi dan target waktu.
“Regulasi, kebetulan itu kan masuknya di bulan agustus/september tiba-tiba ada banyak tugas, penyusunan APB Desa, RKP Desa, perubahan (APB Desa,red), itu sih yang lumayan bingung, dan alhamdulillah-nya dapat support dari pendamping, temen-temen, dari kecamatan,” ungkap Alfina.
Hambatan lain yang sempat menjadi tantangan adalah membangun teamwork efektif karena adanya perbedaan usia yang signifikan di antara perangkat desa. Namun, selebihnya—soal deskripsi pekerjaan, komunikasi, dan koordinasi dengan lembaga kemasyarakatan—dapat dijalankan dengan baik.
Mengejar Kemandirian dan Aksesibilitas Desa
Sebagai Sekretaris Desa, Alfina bertekad membawa Desa Jojo menjadi lebih baik dan mandiri di masa depan. Ia mengakui tantangan terbesarnya saat ini adalah menguasai berbagai regulasi, terutama soal pertanahan, yang harus dikuasai seorang Sekretaris Desa.
Tantangan Desa Jojo dipertegas oleh Dewi Novalia Fajriah, Pendamping Lokal Desa (PLD), yang menyoroti perlunya peningkatan produktivitas aset desa. Ini penting, terutama karena Pendapatan Asli Desa (PADesa) Jojo masih relatif kecil.
Selain urusan aset, Desa Jojo juga ada tantangan aksesibilitas publik. Suryo, Sekretaris FKDK (Forum Komunikasi Disabilitas Kudus) dan warga Desa Jojo, menceritakan kesulitan yang ia hadapi.

“Saya sering sekali diundang acara di balai desa, namun jarang datang, karena terhambat akses yang cukup tinggi, sehingga kursi roda tidak bisa masuk.” katanya.
Harapannya, bangunan pemerintahan ke depan bisa lebih ramah disabilitas.
Alfina, yang juga aktif di organisasi intra kampus Korps Dakwah Islam, menutup perbincangan dengan pesan optimis untuk seluruh generasi muda:
“Semasa muda banyakin pengalaman banyak relasi, ternyata itu penting banget, terus banyak belajar, ikut organisasi. Ayo sama-sama membangun desa, karena emang ini udah waktunya, kita bergerak ikut berpartisipasi dalam pembangunan desa, dalam kemajuan desa, ini emang udah era kita, yang muda yang berkarya.”
Pesan ini menjadi penutup manis, menegaskan bahwa perubahan dan pembangunan desa kini bukan hanya tanggung jawab senior, tetapi sebuah estafet yang wajib digenggam oleh generasi muda yang berani.
