Perpus Gebyok, Jurus Jitu Desa Kauman Kuatkan Anak dari Godaan Gadget

Kudus.JamuDesa (22/11/2025). Realitas saat ini tak bisa dipungkiri: gawai dan media sosial menjadi pusat dunia, bahkan bagi anak-anak dan remaja. Kemudahan digital memang membantu belajar , tapi sisi gelapnya mulai terlihat jelas. Anak-anak menjadi jarang berinteraksi, hanya fokus pada layar. Inilah tantangan yang dihadapi Desa Kauman, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, sebuah desa yang sudah berstatus Desa Cerdas.

Alih-alih melarang, Pemerintah Desa Kauman memilih cara yang lebih cerdas dan kreatif. Mereka memutuskan untuk membangun dan mengelola Perpustakaan Desa yang transformatif. Tujuannya sederhana, namun mulia: menyediakan ruang interaksi dan pendidikan yang menarik, menyeimbangkan derasnya arus teknologi.

Ide brilian itu muncul dari kebutuhan akan ruang yang lebih representatif untuk menampung berbagai kegiatan. Semula, perpustakaan desa menyatu dengan kantor. Melalui musyawarah desa, disepakati untuk menyewa lahan masyarakat dan membangun perpustakaan semi permanen yang kental dengan nuansa lokal: sebuah rumah gebyok.

Pembangunan fisik ini dilakukan bertahap menggunakan Dana Desa, dimulai pada Tahun 2024 dengan alokasi besar mencapai Rp 213.373.000,-. Dana ini difokuskan untuk membangun rumah gebyok, memasang koneksi Wi-Fi, dan membeli koleksi buku-buku.

“Peran kami sebagai Tenaga Pendamping Profesional adalah memberikan ide, mulai dari konsep pembangunan hingga bagaimana mengelola perpustakaan agar menarik,” ujar Eka Witri Wijayanti, salah satu Pendamping Desa yang terlibat aktif dalam pendampingan Musyawarah Desa (Musdes) dan evaluasi APBDesa.

Yang membedakan perpustakaan Desa Kauman (Desa Kauman, RT 3 RW 1 ) adalah bagaimana ia dikelola. Perpustakaan ini tidak dikelola oleh aparatur desa, melainkan dipercayakan kepada energi muda Karang Taruna dan Komunitas Digital. Keterlibatan pemuda ini menjamin kegiatan yang diadakan relevan dengan kebutuhan anak dan remaja.

Fokus utamanya bukan hanya membaca, tetapi memberikan fasilitas dan kegiatan edukasi yang konkret. Pada Tahun 2025, dengan anggaran lanjutan sebesar Rp 19.572.000,- , kegiatan rutin akan mulai digalakkan.

Beberapa program unggulan yang sudah berjalan dan akan rutin dilaksanakan antara lain:

  • English Club, untuk meningkatkan kemampuan bahasa.
  • Sosialisasi Bahaya NAPZA, sebagai langkah preventif narkoba.
  • Sosialisasi Bullying, untuk membangun lingkungan yang aman.
  • Edukasi Bahaya Judi Online dan Phishing, yang sangat relevan di era digital.

Selain itu, program ini didukung oleh pihak luar melalui hibah buku dari Pemerintah Daerah dan akademisi.

Lantas, apa hasilnya?

Dampak yang paling terasa adalah perubahan perilaku. Anak-anak dan remaja kini menjadi lebih aktif mengikuti kegiatan di perpustakaan. Perpustakaan Desa Kauman berhasil menjadi pusat pendidikan.

“Pengunjung 80an orang per hari, buka 3 hari dalam seminggu (Jum’at, Sabtu, Ahad)”, kata eka membenarkan

Secara perlahan, waktu yang dihabiskan untuk menatap layar gawai mulai berkurang, tergantikan oleh interaksi langsung dan kegiatan yang positif. Ke depannya, program ini direncanakan akan diperluas dengan memberikan pelatihan atau kursus keterampilan, memperkuat posisi perpustakaan sebagai wadah pengembangan diri seutuhnya.

Desa Kauman membuktikan, Dana Desa dapat menjadi modal untuk membangun benteng literasi yang kuat, dengan sentuhan budaya lokal (gebyok) dan semangat digital (Wi-Fi), menjadikannya praktik baik dalam mengelola tantangan generasi Z.

Editor: Moh Ali Khomsin

Berkunjung Media Sosial Desa Kauman, Website , Instagram, Tiktok 

Leave a Reply

Discover more from JAMU DESA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading