KUDUS.JamuDesa.com (2/12/2025). Di tengah arus urbanisasi dan kecenderungan anak muda mengejar karir di kota besar, Desa Dersalaam di Kecamatan Bae, Kudus, memiliki kisah inspiratif tentang seorang Generasi Z yang memilih mendedikasikan idealismenya pada pelayanan publik di desa kelahiran. Delya Saski Ananda (26 tahun), Sekretaris Desa (Sekdes) Dersalaam, berbagi perjalanan penuh adaptasi, dari dunia akademik yang kritis menuju koridor birokrasi desa yang terikat aturan. Kisahnya menjadi cermin tantangan sekaligus peluang bagi anak muda untuk meregenerasi kepemimpinan desa.
Delya, yang mulai menjabat sebagai Sekdes sejak Maret 2023, bukanlah sembarang orang. Ia adalah seorang mahasiswa S2 Pendidikan di UNNES yang tengah menyelesaikan semester akhir, dengan cita-cita awal menjadi tenaga pengajar. Motivasi utamanya sederhana: ingin bekerja di dekat rumah. Namun, transisi dari kampus yang penuh kebebasan berpikir ke balai desa yang sarat hierarki ternyata menjadi beban berat dan tantangan terbesar baginya.
Titik Balik Mental: Belajar Tunduk dan Berdamai dengan Keadaan
Dunia akademik adalah tempat yang menjunjung tinggi kritisme, data, fakta, dan sumber. Sebaliknya, birokrasi desa menuntut kepatuhan mutlak terhadap aturan main yang sudah ada. Perbedaan ini menciptakan guncangan mental yang signifikan bagi Delya.
“Yang pertama itu ya mental, Pak. Pasti mental,” ujarnya, menekankan bahwa di birokrasi, ia harus belajar untuk tidak terlalu kritis. “Kalau terlalu kritis, nanti… dianggapnya nggak nurut,” ungkapnya.
Resiliensi, dalam konteks birokrasi dan kepemimpinan Gen Z di desa, bukan hanya berarti ketahanan biasa, melainkan seni adaptasi mental yang mendalam terhadap lingkungan yang sama sekali baru. Bagi Delya Saski Ananda, resiliensi adalah kemampuan untuk “berdamai dengan keadaan” dan menerima kenyataan bahwa dunia birokrasi desa memiliki aturan mainnya sendiri, berbeda jauh dari kebebasan berpikir di lingkungan akademisi. Ini berarti bersedia menahan idealisme kritis demi efektivitas tim, mengesampingkan ego pribadi saat harus kerja sama dengan rekan kerja senior, dan tetap menjalankan amanah dengan profesionalisme.
Resiliensi adalah kompas internal yang memastikan seorang pemimpin muda bisa survive, mengubah “beban berat” menjadi proses belajar, dan pada akhirnya, menemukan cara untuk “di-enjoy–enjoy-kan” meskipun dalam situasi yang sangat terikat. Di sinilah kunci keberhasilan seorang Gen Z dalam beradaptasi di lingkungan berbeda: resiliensi dan kompromi profesional.

Delya mengajarkan filosofi penting bahwa adaptasi adalah proses seumur hidup dan tidak ada yang instan. Untuk bertahan, ia harus menemukan kedamaian dalam realitas baru. Ia merangkum filosofi ini dalam sebuah kesadaran utuh yang kuat:
“Ya memang sadar, sadar, Pak. Kita itu harus sadar bahwa sesuatu kan enggak sesuai rencana kita. Semua itu enggak ada yang sesuai rencana kita. Tapi kalau sesuatu itu dipelajari, sesuatu bisa, intinya kita masuk ke situ itu pasti berdamai dengan keadaan, berdamai dengan keadaan.”ungkap Delya.
Pendekatan Delya bukan hanya tentang mengikuti aturan, tetapi juga tentang seni komunikasi personal 1-on-1 dan teamwork untuk bekerja bersama rekan-rekan senior. Dengan berani ia mengakui jika belum bisa dan tidak malu bertanya, Delya berhasil membangun kolaborasi yang solid, mengubah tantangan birokrasi menjadi fondasi kerja sama.
Harapan Desa dan Panggilan Regenerasi bagi Gen Z
Keterlibatan anak muda seperti Delya tidak hanya membawa energi baru, tetapi juga efektivitas dalam tata kelola desa, terutama di ranah digital. Perangkat desa dari generasi muda menjadi jembatan modernisasi.

Kepala Desa Dersalaam, M Sulaiman, memberikan testimoni yang sangat positif mengenai kontribusi ini, yang menjadi bukti nyata bahwa keberanian Gen Z berkarir di desa membawa dampak signifikan.
“Yang ada di desa sangat-sangat membantu di dalam kita melaksanakan amanah yang ada yaitu baik mengenai pemerintahan, penganggaran, dan e-budgeting dan semuanya bisa berjalan dengan lancar.” ungkap Kades Sulaiman.
Kades Sulaiman juga menegaskan peran perangkat muda, termasuk pendamping desa adalah pendorong roda pemerintahan.
Dalam menggapai harapan Desa Dersalaam yang mandiri, Sekdes Delya memandang bahwa perbaikan harus dilakukan secara holistik, mencakup dimensi intern dan ekstern. Di internal, fokus utama adalah akuntabilitas yang harus melekat pada setiap perangkat—memastikan citra dan kinerja desa dimulai dari kualitas diri para pelayan publik. Sementara secara eksternal, kunci keberhasilan terletak pada partisipasi aktif masyarakat, yang seringkali membutuhkan upaya perangkat untuk menolerir dan merangkul berbagai pihak.
“Ingin citra desanya juga bagus ya dimulai dari diri kita sendiri. Diri kita, perangkat-perangkatnya semua itu harus bagus. Itu dulu. Kalau misal itu sudah bagus, nanti baru keluar ke tingkat-tingkat yang selanjutnya, baru ditularkan.” harapnya.
“Pada intinya, seluruh upaya ini adalah proses demokratisasi, yang ibarat menanam, menuntut agar perbaikan intern dan ekstern bisa bertemu di tempat yang tepat, atau di “media tumbuh kembang yang tepat”, yang hanya dapat dicapai “dengan kesabaran” dari semua pihak”, tuturnya.
Sebagai Gen Z yang kini berada di balik meja birokrasi, Delya Saski Ananda menyampaikan pesan tegas kepada rekan-rekan seusianya: tingkatkan empati terhadap lingkungan sosial dan desa, serta jangan mengabaikan struktur sosial di lingkungan sendiri.
“Anak muda harus kenal pak RT-nya, dan tokoh masyarakat setempat, masak ada anak muda melakukan permohonan pelayanan, dan diminta surat pengantardari RT, jawabnya siapa ya pak RT-nya”, jujurnya
Delya juga menekankan bahwa sudah saatnya anak-anak muda mengambil peran aktif dalam kegiatan sosial seperti Karang Taruna dan mempersiapkan diri untuk regenerasi kepemimpinan di tingkat desa. Sebab, generasi tua akan segera pensiun, dan desa membutuhkan penerus yang cakap dan berjiwa mengabdi.
Kisah Delya Saski Ananda adalah panggilan untuk setiap Gen Z, perangkat, dan pemerhati desa: Resiliensi dan akuntabilitas internal adalah kunci untuk memajukan desa, membawa Dersalaam dan desa-desa lain menuju wujud kemandirian sejati.
Moh Ali Khomsin*
