KUDUS, JamuDesa – Perjalanan panjang pendampingan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) di Kabupaten Kudus kini memasuki babak baru. Setelah lebih dari enam tahun melakukan penguatan kapasitas, Perkumpulan Desa Lestari yang bekerja sama dengan PT Djarum melalui Lokadata (PT Lintas Cipta Media) resmi mengakhiri masa bakti pendampingan intensifnya pada 30 Januari 2026.
Dalam wawancara eksklusif bersama Khomsin (Gus Khomsin), Manager Program Pengembangan Kapasitas BUM Desa, Eko Sujatmo, membedah capaian, tantangan, hingga filosofi di balik transformasi BUM Desa di “Kota Kretek” ini.
Lompatan Signifikan: 118 BUM Desa Berbadan Hukum
Sejak dimulai pada tahun 2019, program ini mencatatkan lompatan kuantitas yang luar biasa. Dari semula hanya sekitar 30 unit BUM Desa yang pasif, kini Kudus telah memiliki 118 BUM Desa yang sah berbadan hukum.
“Angka ini bukan sekadar administratif. Legalitas badan hukum adalah ‘tiket’ resmi bagi desa untuk menjalankan bisnis secara profesional dan akuntabel,” ujar Eko Sujatmo kepada Gus Khomsin. Perputaran modal yang dikelola BUM Desa di seluruh Kudus pun kini diperkirakan telah menembus angka Rp20 miliar.
Lebih dari Sekadar PADes: Profit, Benefit, Habit
Satu poin penting yang ditekankan Eko adalah pergeseran indikator kesuksesan. Selama ini, banyak pihak hanya terpaku pada besaran Pendapatan Asli Desa (PADes) atau Profit. Namun, bagi Desa Lestari, kesuksesan sejati BUM Desa mencakup tiga pilar: Profit, Benefit, dan Habit.
- Profit (Keuntungan): BUM Desa harus sehat secara finansial agar bisa menyetor PADes.
- Benefit (Manfaat): Keuntungan tersebut harus kembali ke masyarakat dalam bentuk manfaat nyata, seperti serapan tenaga kerja, dana sosial, hingga penyediaan fasilitas publik.
- Habit (Kebiasaan): BUM Desa harus mampu menciptakan kebiasaan ekonomi positif baru. Eko mencontohkan warga Desa Japan yang pulang merantau untuk membuka usaha online di rumah berkat akses internet yang disediakan BUM Desa.
Etalase Keberhasilan: BUM Desa Rujukan di Kudus
Beberapa desa di Kudus kini telah menjadi “Kakak Asuh” atau rujukan bagi desa lainnya. BUM Desa Japan menjadi salah satu pionir yang sukses mengelola unit usaha internet desa dan memberikan dampak sosial luas, seperti layanan internet gratis di titik-titik tertentu dan tarif khusus bagi warga tidak mampu. Selain Japan, desa-desa seperti Wonosoco, Garung Lor, Cendono, dan Sidorekso juga tercatat sebagai model BUM Desa yang aktif secara bisnis.
Menatap Masa Depan: Strategi Kemandirian
Menjelang purnatugas, Eko Sujatmo menitipkan beberapa rekomendasi strategis demi menjaga keberlanjutan BUM Desa:
- Kemandirian dari Donor: Eko menyarankan agar pihak donor mulai “berjedah” memberikan pendampingan harian agar pengurus BUM Desa tidak manja dan benar-benar mandiri.
- Pendampingan Tematik: Pola pendampingan diharapkan bergeser dari harian (live-in) menjadi kasuistik atau berdasarkan kebutuhan spesifik (on-call).
- Sinergi Akademisi & Forkom: Melibatkan kampus lokal (seperti UMK dan UIN) serta memperkuat peran Forum Komunikasi (Forkom) BUM Desa Kudus sebagai wadah advokasi dan kerja sama bisnis antar-desa.
“Pendampingan itu proses, bukan instan. Kami telah menginvestasikan pengetahuan dan praktik baik di Kudus. Kini saatnya BUM Desa berdiri tegak di kaki sendiri untuk mewujudkan desa yang lestari,” pungkas Eko.
Artikel ini disusun berdasarkan liputan khusus JamuDesa.com dengan Perkumpulan Desa Lestari, Jum’at, 30 Januari 2026.
Penulis: Tim JamuDesa
Narasumber: Eko Sujatmo (Perkumpul Desa Lestari)
