Yayasan Mitra Alam bekali Pendamping Desa Kudus tanggulangi HIV/AIDS di Desa

Kudus.Jamu Desa. Pendamping Desa di Kabupaten Kudus ikuti in service training atau pelatihan untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan pendamping dalam penanggulangan HIV/ AIDS kerja bareng Yayasan Mitra Alam Solo, Komisi Penanggulangan Aids Kabupaten Kudus, Dinas PMD, dan P3MD Kudus, tanggal 22-24 Oktober 2019 di Hotel @Hom Kudus.

Kepala Dinas PMD, Adhi Sadhono Murwanto melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinas PMD) Kabupaten Kudus, M. Fitriyanto, menegaskan bahwa, HIV/ AIDS menjadi permasalahan besar dan harus ditanggulangi bersama-sama, sehingga tidak menular.

“Keberadaan HIV/AIDS jadi permasalahan besar yang harus ditanggulangi bersama-sama, semua eleman masyarakat, termasuk pemerintah, pemerintah Desa, di Kabupaten Kudus ada yang terjangkit HIV/AIDS, ini jangan sampai melebar”, kata Fitriyanto.

“Perlu dilakukan pemberdayaan masyarakat dengan dibentuk Warga Peduli Aids atau WPA, dan sesuai dengan peraturan menteri Desa PDTT nomor 11 tahun 2019 tentang prioritas penggunaan Dana Desa Tahun 2020, Dana Desa dapat digunakan untuk kampanye dan promosi penyakit menular, penyakit seksual, HIV/AIDS, dan tuberkulosis”, imbuh lelaki tegap yang biasa dipanggil Aan itu.

Direktur Yayasan Mitra Alam, Ligik, menambahkan, bahwa pelatihan ini semata untuk membekali pendamping desa dengan pengetahuan dan ketrampilan mendampingi desa, dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui penanggulangan HIV/AIDS ini. Karena mereka, para pendamping, mempunyai peran strategis dalam menentukan arah pembangunan desa.

“Penanggulangan HIV/AIDS dapat dimulai dari bawah, desa, yakni dengan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat. Dan kenapa Tenaga Pendamping Profesional (TPP) atau pendamping Desa yang di latih?, karena Anda adalah orang-orang yang memiliki peran strategis dalam menentukan arah pembangunan desa” kata Ligik.

Menurut data nasional, kasus HIV dari tahun 1987 sampai 2019, Jawa Tengah menduduki peringkat tiga, yakni sebesar 10.858. sementara HIV/AIDS dalam rentang tahun yang sama sebanyak 41.115 kasus. Hal ini adalah merujuk pada data yang ditemukan, belum menunjukkan bahwa kasus HIV/AIDS secara keseluruhan yang belum terungkap. Intinya Penanganan HIV/AIDS ini membutuhkan dana yang cukup.

Ligik menambahkan, bahwa selama ini penanggulangan HIV/AIDS mengandalkan global fund atau dana internasional, tetapi Indonesia kini sudah memasuki middle income countries (negara berpendapatan menengah, red), sehingga kedepan, sudah tidak eligible (tidak berhak menerima global fund,red) lagi.

“Karena sudah tidak eligible lagi, maka ini harus ada opsi baru, sehingga penanganan HIV/AIDS dapat terus dilakukan. Sebab penderita HIV tidak hanya menyerang pada kelompok resiko tinggi (PSK, LSL, pengguna narkoba suntik, red) saja, melainkan sudah menyebar kepada masyarakat lain, di sekitar kita, seiring derasnya arus informasi pemicu perilaku berisiko yang tak mampu dibendung”, kata Ligik.

Pelatihan yang bertajuk pelatihan HIV, NAPZA, dan pengembangan program HIV berbasis masyarakat untuk pendamping Desa di Kabupaten Kudus ini diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan advokasi HIV/AIDS di setiap kecamatan dan desa. Yakni dengan stimulasi sosialisasi HIV/AIDS dan pembentukan Warga Peduli Aids (WPA). Sehingga tidak ada lagi citra buruk dan diskriminasi masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS. Salam Merdesa!!! M.A. Khomsin (TAPSD Kudus).

Leave a Reply

Discover more from JAMU DESA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading