
Kudus.JamuDesa.Com. Desa Jati Kulon terletak di Kecamatan Jati Kabupaten Kudus, terbagi dalam 6 Rukun Warga dan 29 Rukun tetangga dengan Penduduk sebanyak 8.225 Jiwa. Pendapatan Desa pada tahun 2016 sebesar Rp 1.970.532.700,- dan tahun 2017 meningkat menjadi Rp 2.631.557.300,- yang berasal dari PAD, Dana Desa, BHPDRD, ADD, Bankeu APBD Provinsi, Bankeu APBD Kabupaten dan pendapatan lain.
Kepala Desa Jati Kulon Sugeng Prasetyo, dihadapan Bupati Kudus H Musthofa dan tamu undangan dalam perlombaan desa, menjelaskan, bahwa sebagian besar masyarakat Jati Kulon bekerja di sektor industri rumah tangga, pertanian, perdagangan, peternakan dan jasa. Lainnya bekerja di bidang pemerintahan, wiraswasta, di dalam dan di luar desa yang mempunyai kontribusi besar terhadap peningkatan pendapatan masyarakat.

“Banyak masyarakat desa yang membuka usaha sampingan dengan membuka warung makan, kios, dan usaha lainnya yang dapat menyerap tenaga kerja warga sekitar. Insya Allah di Desa Jati Kulon tidak ada Kemiskinan,” paparnya yang di sambut tepuk tangan hadirin, dalam sambutan perlombaan desa, tingkat Kabupaten Rabu (21/3/2018).
Di Desa Jati Kulon juga sudah mempunyai Bada Usaha Milik Desa (BUMDes), dengan nama “Sumber Pangan Sejati” dengan unit usaha yaitu Bank Sampah. Untuk meningkatkan ekonomi rakyat, paa tahun 2017 Desa Jati Kulon mencanangkan kampung tematik, dengan tema “1001 inovasi”. Adapaun tema-tema tersebut berbeda-beda pada setiap RW, diantaranya ;

RW 1, Kampung Padang Bulan. Dinamakan kampung padang bulan, karena wilayah itu disepanjang jalan terdapat berbagai jenis lampion-lampion. Jalannya juga diberi warna-warni, sehingga enak untuk jagong bareng. Selanjunya setiap malam minggu mengadakan car free night, banyak pengunjung dari luar Rt dan luar Desa, mereka sambil menyantap makanan khas tempo dulu pada waktu terang bulan.

RW 2, Kampung Homestay. Dinamakan Kampung Homestay, dikarenakan wilayah tersebut masyarakatnya banyak yang membuka usaha rumah penginapan atau kost-kostan. Pengurus RW memasarkan dan mengenalkan bahwa Homestay yang ada diwilayah ini tidak kalah dengan hotel-hotel yang ada di kabupaten Kudus. Masih di RW 2, ada potensi tentang proses pengoplosan serta daur ulang sampah serta kebersihan dan keindahan lingkungan, yang diberi tema “Bunga Citra Lestari alias Kampung BCL”. Sebagai kampung BCL, mempunyai makna predikat citra kebersihan lingkungan dan taman. Selain penataan lingkungan yang bagus dan menarik, warga setempat juga akan membudidayakan tanaman obat-obatan yang langka untuk dikonsumsi sendiri dan bisa dijual belikan.

RW 3, Kampung Kuliner. Warga wilayah RW tersebut mempunyai berbagai macam masakan serta mempunyai toko-toko atau warung kuliner yang sangat banyak. Sehingga masyarakat bisa memilih masakan yang diinginkan sesuai selera. Selain Kampung Kuliner, di RW 3 ini juga mendapat julukan lain, yaitu Kampung Pintar, karena terdapat pusat pembelajaran yaitu perpustakaan desa, dengan nama “MELATI”. Perpustakaan Melati menyediakan berbagai macam buku, baik diakses melalui manual atau via online.
RW 4, Kampung Industri. Dinamakan kampung industri, lantaran diwilayah tersebut terdapat industri tingkat atas, menengah ataupun tingkat rumahan. Terdapat Industri Kertas PT Pura, Industri Rokok PT Djarum, Industri Es, Konveksi, Besi dan lain-lain. Selain kampung industri, RW 4 juga indentik dengan Kampung Markisa, karena diwilayah tersebut banyak tanaman buah markisa, yang buahnya diolah menjadi Sirup dipasarkan, sehingga wilayah ini mendapat pemasukan dari hasil buah markisa.

RW 5, Kampung Tempean. Dinamakan kampung tempean, karena masyarakat di wilayah itu kebanyakan mempunyai usaha pembuatan TEMPE. Dari hasil pengolahan tempe tersebutdidistribusikan diberbagai wilayah terutama Kudus dan Demak. Kedepan ada harapan untuk pengembangan keripik tempe, botok tempe, dan limbah tempe akan digunakan sebagai pengganti LPG untuk keperluan memasak rumah tangga. Selain kampung tempean, RW 5 juga memiliki julukan lain yakni Kampung Asi (Air Susu Ibu), kampung ini dijadikan sebagai percontohan agar ibu-ibu se Desa Jati Kulon, jika mempunyai anak, maka putra – putrinya umur 0-2 tahun, wajib memberikan ASI (tanpa menggunakan susu formula).

RW 6, Kampung Agro. Dinamakan Kampung Argo, karena wilayah tersebut, sudah tertata lapak-lapak penjual buah, hasil pertanian warga setempat, seperti Melon, Semangka, Tomat. Pembeli bisa membeli dengan memetik sendiri di sawah. Di wilayah itu banyak kuliner juga, yang setiap hari libur dikunjungi masyarakat untuk makan pagi setelah berolah raga di area persawahan dan refresing.

Bupati Kudus H Mushtofa, menyebut Desa Jati Kulon, sebagai Desa Juara, desa tematik yang banyak menginspirasi Kudus. Keberhasilan desa Jati kulon ini tentunya tak lepas dari kerja keras kepala desa beserta masyarakatnya. Sugeng Prasetyo, selaku Kepala Desa Jati Kulon mengemukakan trik-triknya membangun desa tersebut. Di segi kebersihan, Desa Jati Kulon juga menerapkan denda 10 ribu rupiah per bulan setiap rumah jika ada yang membuang sampah sembarangan. Desa Jati Kulon juga sedang mengembangkan Bank Sampah. Saat ini, sudah banyak warga yang menabung sampah yang dikelola desa.
Sebelumnya Bupati Kudus juga menghadiri perlombaan Desa, di Kecamatan Jekulo yakni Desa Tanjung Rejo. Dalam sambutannya, Selasa (20/3) Bupati Kudus, Musthofa mengucapkan banyak terima kasih atas kerja samanya selama ini, sehingga kegiatan lomba desa ini dapat membawa berkah dan manfaat.

Terkait pembangunan waduk logung yang berda di wilayah Kecamatan Jekulo, khususnya di Desa Tanjung Rejo, Musthofa berharap supaya bisa dimanfaatkan, terlebih para petani disekitar, sehingga apabila dimusim kemarau para petani tidak kekurangan air. Ia berharap, tradisi Kudus tetap dipertahanakan dan saya berharap di acara lomba desa ini jangan dikotori dengan nuansa politik karena tahun ini merupakan tahun politik.
Sedangkan Desa Jojo Kecamatan Mejobo, perlombaan desa diselenggarakan pada Senin (19/3), di balai desa setempat. Sebelumnya Desa Glagah Waru Kecamatan Undaan perlombaan desa pada Kamis (15/3). Lomba desa menjadi ajang promosi potensi tiap desa di Kabupaten Kudus. Tiap kecamatan satu desa di Kudus berlomba-lomba mempercantik desa, dan menampilkan potensi desa agar mendapat predikat terbaik. *** salam damai – kang saleh, ta pp kudus.

